A Journey of Doubts and Self-Discovery: Embracing the Mess and Finding My Own Path
Selamat datang teman-teman pembaca! sebelum kalian membaca tulisanku yang berhubungan tentang dunia kesehatan terutama Fisioterapi aku ingin bercerita panjang dulu ya, aku harap cerita ini jadi pembuka hangat di hati kalian.
Cerita kali ini aku tujukan untuk orang-orang yang sedang menjalani kehidupan yang tak pernah mereka pilih, dan juga untuk kalian yang harus menyatakan kekalahan dari mimpi-mimpi yang dahulu kalian lantang gaungkan.
Aku seringkali bangun tidur dengan hati yang berat sembari diiringi langkah tertatih menuju kamar mandi usang yang kian hari dipenuhi lumut, namun kemalasan yang berkedok tidak ada waktu luang membuat lumut-lumut itu mulai berpesta tanpa henti.Tak butuh waktu lama, aku kembali ke kamar tidur yang dipenuhi piring dan gelas kotor yang terlalu enggan aku bawa ke tempat cucian,serta baju-baju yang pada akhirnya urung aku pakai. Semakin masuk ke dalam ruangan, kalian akan menemukan barang-barang fosil seperti kaleng kosong, kertas berserakan, tas yang bertahun-tahun tak tersentuh, hingga laptop yang sudah berbulan-bulan terabaikan di pojok ruangan.
Masih dengan rasa kantuk yang memuncak, aku melangkah keluar kamar, membawa perang yang terus berkecamuk di kepala. Sulit untuk menggambarkan perasaan itu, tetapi jika harus diibaratkan, rasanya seperti harus beradu mulut dengan sepuluh mantan pacar sekaligus. Setiap pagi selalu sama ada rasa pening yang luar biasa setiap kali aku melangkah keluar untuk berkuliah.Menyedihkan rasanya melihat diri sendiri yang tampak hampir kehilangan kewarasan, setiap malam merenungkan keputusan-keputusan yang sering kali bukan aku yang buat. Jadi, sebenarnya aku ini siapa? Apakah hanya aku yang tidak memiliki hak untuk memilih jalan hidupku sendiri?Rasanya seperti tenggelam ke dasar laut yang gelap, sementara di sekitarku, orang-orang tampak bersuka cita menjalani hidup mereka, merayakan hari demi hari dengan penuh kebahagiaan. Sedangkan aku, setiap malam hanya berharap dunia berakhir esok hari. Lalu, aku kembali bertanya-tanya, sejak kapan semuanya menjadi seperti ini?
Dari sebuah buku yang aku baca gejala yang aku alami sudah masuk ke ciri-ciri gejala depresi, menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder(DSM-5) jika merasakan 5 atau lebih gejala tersebut secara konsisten selama dua minggu maka perlu untuk mengonsultasikanya ke psikolog atau psikiater.
1.Depressed mood: perasaan ini ditandai dengan merasa kehilangan tujuan hidup,merasa kesepian dan kesedihan atau kekosongan yang terlihat di mata orang lain.
2.Kehilangan minat dan kesenangan dalam hampir semua kegiatan
3.Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan
4.Insomnia
5.Psikomotor yang lamban: seperti berbicara lebih lamban,gerakan yang lamban atau suara yang mengecil
6.Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari
7.Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan
8.Bekurangnya konsentrasi atau kemampuan untuk berpikir
9.Pikiran berulang tentang kematian
Setelah membaca itu, aku menyadari bahwa aku termasuk orang yang menunjukkan gejala depresi. Meski buku menyarankan untuk pergi ke psikolog, kenyataannya uang yang hanya cukup untuk bertahan hidup setiap hari membuatku lebih memilih untuk mengenyangkan perut. Setidaknya, makan masih menjadi salah satu hal yang mampu memberiku sedikit kebahagiaan.
Berbicara soal uang, aku pernah berada pada pilihan yang sulit ketika harus memperdebatkan jurusan kuliah yang ingin aku ambil. Jika berkaca pada apa yang aku gemari, tentu aku ingin mempelajari ilmu sastra. Namun, sejak awal keinginan itu sudah ditentang. Aku yang awalnya pantang menyerah mencoba mencari jurusan lain yang masih memiliki keterkaitan dengan sastra, tetapi semuanya tetap ditolak.
Satu-satunya pilihan yang mereka inginkan adalah agar aku mempelajari ilmu kesehatan sesuatu yang terasa begitu jauh dari apa yang benar-benar aku inginkan.
Perdebatan panjang tanpa akhir tidak pernah membawaku pada keputusan yang benar-benar aku inginkan. Semua alasan yang mereka lontarkan selalu berpusat pada uang yang akan aku hasilkan setelah lulus. Aku mengerti, bagi mereka, seorang penulis dianggap tidak mampu mencukupi kebutuhan lima kepala. Aku paham bahwa karier seorang penulis itu sulit, penuh ketidakpastian, dan sering kali tidak dihargai. Tapi, apakah aku salah jika tetap ingin memilih jalan yang membuatku merasa hidup?
Pada akhirnya, aku menyerah dan mengikuti pilihan mereka, setelah semua kekacauan ini terjadi aku tidak bisa berhenti bertanya-tanya apakah pernah walau hanya sekali, mereka merasa bersalah ketika melihatku terpuruk? Pada akhirnya, aku dibiarkan berjuang sendiri, seolah terjebak dalam gelapnya lorong tanpa ujung
Kini, semester 3 telah berlalu, dan sebentar lagi aku akan memulai praktik di sebuah Rumah Sakit sebuah tahap yang selalu aku takuti, terutama setelah melewati OSCE. Ada kalanya aku masih meragukan kemampuan diri sendiri, sering kali terjebak dalam kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan teman-teman seangkatan yang terlihat lebih percaya diri. Namun, jika dibandingkan dengan sebelumnya, keadaan diriku kini jauh lebih baik.
Perlahan, aku mulai menemukan kembali motivasi yang sempat hilang dan menata ulang tujuan-tujuan baru dalam hidupku. Aku belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi justru di situlah letak keindahannya.Aku percaya rencana Sang Maha Penentu selalu yang terbaik, lalu akhirnya setiap perjuangan, setiap tetes air mata, dan setiap langkah kecil ini akan terbayar dengan kebahagiaan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku berharap semua teman-teman yang membaca tulisan ini dan sedang mengalami apa yang aku rasakan dapat terus menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Aku tahu betapa beratnya menjalani sesuatu yang bukan kita inginkan,jangan pernah ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat atau bahkan dari mereka yang pernah berada di posisi yang sama. Kita tidak perlu menghadapi semuanya sendirian,teruslah melangkah, sekecil apa pun langkah itu. Karena setiap langkah tetaplah sebuah kemajuan, dan suatu hari nanti, kamu akan melihat betapa jauh dirimu telah melangkah.

Komentar
Posting Komentar